<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keritiKentang™</title>
	<atom:link href="http://keritikentang.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keritikentang.com</link>
	<description>crispy crunchy yummy yummy...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 05:43:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Broadcast Message yang Menyesatkan</title>
		<link>http://keritikentang.com/2012/01/09/broadcast-message-yang-menyesatkan/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2012/01/09/broadcast-message-yang-menyesatkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 05:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Wahai pengguna smartphone, smart dan bijaklah dalam menggunakan gadget kalian. Memang sih, smartphone itu sangat memudahkan kita untuk memperoleh informasi secara cepat. Tapi belum tentu akurat dan bisa dipercaya! Beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga pergi liburan ke Sumatra Barat dari Pekanbaru dengan menggunakan mobil pribadi. Sebenarnya ini adalah perjalanan rombongan bersama sekitar 30-an mobil lain. Namun tetap saja pergi dan pulangnya dilakukan tidak secara bersamaan karena bisa repot jika konvoi 30-an mobil sekaligus. &#160; Nah, dalam perjalanan pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Wahai pengguna <em>smartphone</em>, <em>smart </em>dan bijaklah dalam menggunakan <em>gadget </em>kalian. Memang sih, <em>smartphone </em>itu sangat memudahkan kita untuk memperoleh informasi secara cepat. Tapi belum tentu akurat dan bisa dipercaya! Beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga pergi <a title="Saya ceritakan juga di blog saya ini" href="http://nilla.keritikentang.com/?p=2490">liburan ke Sumatra Barat</a> dari Pekanbaru dengan menggunakan mobil pribadi. Sebenarnya ini adalah perjalanan rombongan bersama sekitar 30-an mobil lain. Namun tetap saja pergi dan pulangnya dilakukan tidak secara bersamaan karena bisa repot jika konvoi 30-an mobil sekaligus.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dalam perjalanan pulang (dari Sumatra Barat ke Pekanbaru) tiba-tiba salah seorang teman mengirimi saya pesan di BBM :</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/-IgL02iszd_M/Twpy4aofLsI/AAAAAAAAB7E/HptOnQI4to0/s1600/munch_2011_12_26_212113a.png" alt="" width="360" height="480" /></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-114"></span>Wew&#8230; Dari <em>broadcast</em>? Sepintas saya ragu dengan kebenaran info tersebut. Secara sudah terlalu sering pengguna BB menyebarluaskan info yang bahkan mereka belum tau pasti apakah berita itu benar atau tidak melalui BBM ke contact mereka. Kemudian, saya tanya lagi :</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://1.bp.blogspot.com/-W541W_5QGzA/Twpy4dcz0mI/AAAAAAAAB7U/ZkY0YXI281k/s1600/munch_2011_12_26_212148a.png" alt="" width="360" height="480" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian saya bukalah web-web semacam Detik dan Kompas melalui Blackberry saya. Hmmm&#8230; Tapi tidak ada 1 pun tuh yang mengabarkan berita longsor di kelok 9 itu. Yang ada hanya beberapa berita longsor yang terjadi beberapa tahun lalu. Maka saya pun mencoba mencari tentang berita ini di twitter. Secara twitter kan juga bisa menjadi media yang menyambungkan informasi dari &#8220;mulut&#8221; ke &#8220;mulut&#8221; secara cepat, namun tetap saja&#8230; belum tentu akurat. Maka inilah yang saya dapat :</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/-aNN0WljMde4/Twpy4AMKG9I/AAAAAAAAB68/onr0lcLXj_g/s1600/munch_2011_12_26_212015.png" alt="" width="360" height="480" /></p>
<p style="text-align: justify;">Nah&#8230; loh&#8230; tuh&#8230; kan! Persis seperti dugaan saya! Meskipun saya sudah menduganya, tetap saja berita bohong (hoax) tersebut sempat membuat ayah saya kesal. Karena dia sangat mencemaskan beberapa mobil rombongan lain yang berangkat dari Sumatra Barat setelah kami. Tadinya, jika berita longsor itu benar, maka ayah saya ingin secepatnya mengabarkan berita tersebut ke teman-teman rombongan yang masih berada di Sumatra Barat untuk mengambil jalan alternatif (tidak melewati Kelok 9). Tapi untungnya berita tersebut tidak benar, namun sangat membuat ayah saya kesal karena sempat panik.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan pertamakalinya buat saya. Sudah berkali-kali saya mendapat <em>broadcast message</em> melalui BBM yang tidak  jelas kebenaran informasinya. Ada <em>broadcast </em>semacam sumbangan korban bencana, anak hilang, kecelakaan di tempat tertentu, dan lain-lain. Seharusnya, pembaca <em>broadcast message </em>itu bijak! Jika memang tidak tau persis bahwa berita yang sampai ke mereka itu benar atau tidak, lebih baik tidak perlu disebarluaskan. Karena jika ternyata tidak benar, sama saja kita membantu proses penyebarluasan berita bohong atau hoax. Lagipula ada Google kok yang dapat membantu mengecek kebenaran berita  tersebut. Jadi, jangan malas <em>browsing </em>sebelum menyebarluaskan berita!</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian orang yang melakukan <em>broadcast </em>ini selalu berdalih, &#8220;Nggak tau berita ini benar atau tidak. Saya hanya meneruskan saja.&#8221; Lah, kalau memang tidak tau berita itu benar atau tidak, kenapa juga disebarluaskan??? Kita tidak pernah tau loh dampak dari informasi bohong yang kita bantu penyebarluasannya. Bayangkan jika ayah saya benar-benar memberitahukan teman-teman serombongan lain tentang berita longsor ini sehingga mereka akhirnya memilih melewati jalan alternatif yang panjangnya bisa 2 kali lipat dari jalan yang seharusnya mereka lewati. Padahal ternyata tidak ada longsor di Kelok 9. Akan sangat merugikan sekali! Banyak waktu, tenaga, dan uang yang terbuang hanya karena sebuah berita bohong yang disebarluaskan!</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, pikirkan dampaknya sebelum menyebarluaskan informasi yang kita belum tau pasti benar atau tidak. Dan jangan terlalu mudah percaya juga karena bisa jadi info tersebut adalah info yang menyesatkan dan dapat merugikan banyak orang. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2012/01/09/broadcast-message-yang-menyesatkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Bahasa Daerah untuk Iklan TV Nasional</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/12/26/penggunaan-bahasa-daerah-untuk-iklan-tv-nasional/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/12/26/penggunaan-bahasa-daerah-untuk-iklan-tv-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 18:54:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nieke</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu Saya sempet nonton TV, dan melihat sebuah iklan produk makanan yang dibintangi sama Soimah *iya, penyanyi yang lagi ngehits itu..*. Disitu adegannya Soimah lagi nyanyi pakai bahasa daerah, bahasa Jawa tepatnya. Sayangnya, diiklan berbahasa daerah itu tidak dicantumkan subtitle dibawahnya untuk memperjelas arti dari isi nyanyian Soimah *yang pastinya secara tidak langsung akan memperjelas maksud yg ingin disampaikan dari iklan itu*. Sebagai masyarakat Indonesia yang bukan berasal dari Jawa, Saya awalnya tidak terlalu paham isi nyanyian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Beberapa hari yang lalu Saya sempet nonton TV, dan melihat sebuah iklan produk makanan yang dibintangi sama Soimah *iya, penyanyi yang lagi ngehits itu..*. Disitu adegannya Soimah lagi nyanyi pakai bahasa daerah, bahasa Jawa tepatnya. Sayangnya, diiklan berbahasa daerah itu tidak dicantumkan subtitle dibawahnya untuk memperjelas arti dari isi nyanyian Soimah *yang pastinya secara tidak langsung akan memperjelas maksud yg ingin disampaikan dari iklan itu*. Sebagai masyarakat Indonesia yang bukan berasal dari Jawa, Saya awalnya tidak terlalu paham isi nyanyian yg ada diiklan itu. Sedikit2 ngerti sih, soalnya beberapa kata pernah Saya dengar dan pahami. Namun bagaimana dengan masyarakat daerah lain yang bahkan sama sekali tidak mengerti dengan bahasa Jawa??</p>
<p style="text-align: justify"><a href="http://keritikentang.com/wp-content/uploads/2011/12/soimah.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-107" src="http://keritikentang.com/wp-content/uploads/2011/12/soimah-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p style="text-align: justify">IMHO menurut Saya cara marketing seperti rugi. Kenapa? <span id="more-106"></span>Karena isi iklannya *pastinya berupa promosi* tidak tersampaikan dengan baik ke seluruh rakyat Indonesia. Mungkin si pembuat iklan &#8220;lupa&#8221; bahwa Indonesia itu punya beragam budaya daerah. Beragam bahasa. Untuk kasus ini, tidak semua masyarakat Indonesia yang mengerti bahasa Jawa, bukan? Begitu pula jika ada iklan2 lain yang menggunakan bahasa dari daerah2 lain tanpa menggunakan subtitle lalu masuk ke TV nasional. Kan sayang banget kalau udah mahal2 masukin iklan ke TV nasional tapi yang mengerti sama isi iklannya hanya kalangan masyarakat daerah tertentu saja.</p>
<p style="text-align: justify">Sebenarnya Saya melihat penggunaan bahasa daerah untuk skala TV nasional ini bagus jika ada hubungannya dengan pelestarian budaya atau misi budaya. Tapi mungkin akan lebih efektif dan efisien jika maksud yang ingin disampaikan oleh sebuah iklan dapat dimengerti semua kalangan masyarakat sesuai skala pemirsanya. IMHO penggunaan bahasa daerah pada iklan tanpa subtitle hanya akan lebih efektif digunakan untuk TV lokal. Jika skala pemirsanya nasional, gunakanlah bahasa nasional. Atau gunakan subtitle pada penggunaan bahasa daerah untuk mempermudah pemirsa yang tidak familiar dengan bahasa daerah tertentu <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#41;' /></p>
<p style="text-align: justify">Sekian.</p>
<p style="text-align: justify">Photo dari <a href="http://www.kapanlagi.com/foto/selebriti/indonesia/s/soimah/048.html">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/12/26/penggunaan-bahasa-daerah-untuk-iklan-tv-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Actually She is Not Jeng Kellin Anymore, Is She?</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/09/29/actually-she-is-not-jeng-kellin-anymore-is-she/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/09/29/actually-she-is-not-jeng-kellin-anymore-is-she/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Sep 2011 05:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nieke</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[&#160; photo dari sini Awalnya sih, dia populer karena karakternya yang rada oon, usil, kerap kali membuat lawan bicara geram dan merasa jengkel (mungkin inilah kenapa dia dinamakan Jeng Kellin) dan pada akhirnya&#8230;.lucu. Perannya di salah satu acara komedi saat itu bener-bener disukai banyak pemirsanya. Kemudian akhirnya, sosok yang menjengkelkan ini mulai wara wiri dibanyak acara lain, karena mungkin saat itu karakternya sedang diminati banyak orang. Anehnya, kemunculannya di beberapa acara lain itu sudah mulai berdeda dengan sosok fenomenal tadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">&nbsp;</p>
<div id="attachment_91" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://keritikentang.com/wp-content/uploads/2011/09/Jeng_Kellin.jpg"><img class="size-medium wp-image-91" src="http://keritikentang.com/wp-content/uploads/2011/09/Jeng_Kellin-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Jeng Kellin &amp; Nyctagina</p></div>
<p style="text-align: center">photo dari <a title="Rizna Nyctagina" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rizna_Nyctagina">sini</a></p>
<p style="text-align: justify">Awalnya sih, dia populer karena karakternya yang rada oon, usil, kerap kali membuat lawan bicara geram dan merasa jengkel (mungkin inilah kenapa dia dinamakan Jeng Kellin) dan pada akhirnya&#8230;.lucu. Perannya di salah satu acara komedi saat itu bener-bener disukai banyak pemirsanya. Kemudian akhirnya, sosok yang menjengkelkan ini mulai wara wiri dibanyak acara lain, karena mungkin saat itu karakternya sedang diminati banyak orang.</p>
<div style="text-align: justify">Anehnya, kemunculannya di beberapa acara lain itu sudah mulai berdeda dengan sosok fenomenal tadi.<span id="more-90"></span> Mungkin tetep terlihat rada oon, berpakaian aneh, berdandan aneh, bergerak gerik layaknya seorang Jeng Kellin, tapi&#8230;..dia sudah<strong> TIDAK menJENGKELkan</strong>! Boro-boro ngusilin dan membuat orang lain geram, malahan, hampir ditiap acara dia yang sering kali jadi bulan-bulanan, ditakut-takuti oleh rekannya, crew, bahkan oleh bintang tamunya sendiri (disalah satu talkshow yang ia bawakan bersama komedian ngetop lain) dengan berbagai atribut hantu. Oh, dia <strong>phobia hantu </strong>rupanya.</div>
<div style="text-align: justify">Sekali dua kali mungkin terlihat lucu. Tapi untuk yang ketiga dan sekian dan sekian dan sekian kalinya.. saya bosan. Hanya ituuuu itu saja yang ditampilkan berulang-ulang. Apa tidak ada pertunjukan lain yang bisa membuat kemunculannya itu memang menarik? Mana sosok menjengkelkannya..? Buat Saya, orang yang berdandan dan bergaya ala Jeng Kellin tapi <strong>SAMA SEKALI</strong> tidak menampilkan karakter yang menjengkelkan itu bukan Jeng Kellin yang fenomenal itu. Dia hanya sosok Nyctagina (sosok Jeng Kellin aslinya) yang takut hantu. Titik. Lucu..? Hmmm, coba Saya pikir-pikir lagi ya..</div>
<div style="text-align: justify">Belakangan, Nyctagina mulai terlihat muncul dengan TANPA atribut Jeng Kellin diacara-acara lain (kecuali di talk shownya sendiri yang memang <span style="color: #000000"><del>sudah terlanjur</del></span> membawa nama &#8220;Jeng Kellin&#8221;). Tampilannya menarik dengan dandanan dan pakainan serta gerak gerik layaknya perempuan pada umumnya. Ntah kenapa Saya merasa it&#8217;s better for her. Toh dia sudah tidak &#8220;menjual&#8221; karakter yang menjengkelkan, bukan..? Dan katanya saat ini dia baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Kedokteran. Hmmm, mungkin besok-besok lebih baik tampil dengan jas dokter kali ya mbak Nyctagina. Heheh.. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/09/29/actually-she-is-not-jeng-kellin-anymore-is-she/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surga TIDAK SELALU Berada di bawah Telapak Kaki Ibu</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/07/01/surga-tidak-selalu-berada-di-bawah-telapak-kaki-ibu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/07/01/surga-tidak-selalu-berada-di-bawah-telapak-kaki-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 16:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Jangan protes dulu. Jangan langsung terpancing pada judul postingan yang provokatif ini. Hehehe… Saya memang belum menjadi seorang ibu. Saya belum tau rasanya hamil, melahirkan, dan merawat seorang anak benar-benar sejak ia lahir hingga dewasa. Jadi, maafkan segala ketidaktahuan saya tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Saya hanya menjadi pengamat. Di mana di lingkungan saya ada banyak sekali para ibu dan anak yang bisa dengan jelas saya amati. &#160; Saya pernah melihat sebuah keluarga makan di sebuah tempat yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/13795574/2/istockphoto_13795574-pre-teen-covering-ears-as-mom-gives-discipline.jpg" alt="" width="253" height="380" />Jangan protes dulu. Jangan langsung terpancing pada judul postingan yang provokatif ini. Hehehe… Saya memang belum menjadi seorang ibu. Saya belum tau rasanya hamil, melahirkan, dan merawat seorang anak benar-benar sejak ia lahir hingga dewasa. Jadi, maafkan segala ketidaktahuan saya tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik. Saya hanya menjadi pengamat. Di mana di lingkungan saya ada banyak sekali para ibu dan anak yang bisa dengan jelas saya amati.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pernah melihat sebuah keluarga makan di sebuah tempat yang sama dengan saya. Mendadak, saya tertarik untuk mengamati mereka. Mereka terdiri dari seorang ayah, ibu, seorang anak laki-laki yang kira-kira berusia 8 tahun dan seorang anak perempuan yang usianya tampak lebih kecil. Pada mulanya, tidak ada yang janggal dengan mereka. Kedua anak tersebut kelihatan asik makan es krim di depan orang tua mereka yang sedang ngobrol. Hingga akhirnya keluarga ini tampak akan segera beranjak. Sang ayah, ibu, dan si kakak sudah mulai berdiri. Sementara sang adik masih duduk dan serius menyantap es krimnya. Lalu apa yang kemudian saya lihat?<span id="more-75"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan wajah jutek penuh amarah, sang ibu langsung menarik dengan kasar tangan sang adik yang masih duduk tersebut. Iya, sungguh kasar! Sampai saya yakin tangannya akan teresa perih. Kemudian saya mendengar sebuah hentakan dan omelan keluar dari mulut sang ibu. Maka menangislah anak perempuan tersebut. Setelah menangis pun, ia masih dijeweri oleh ibunya. Sungguh saya tidak tega melihatnya! Apa sih yang dimengerti oleh anak sekecil itu? Apa tidak ada rasa kasihan dan empati pada si kecil? Atau jangan-jangan… Ibu tersebut adalah ibu tiri? <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_neutral.gif' alt='&#58;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#124;' /> Ooopps… Ok, itu dugaan yang sungguh tidak etis. Pada kenyataannya, banyak juga saya bertemu dan kenal dengan ibu-ibu tiri yang super baik pada anak-anak yang sebenarnya tidak lahir dari rahim mereka. Lantas, sebutan apa yang pantas saya berikan untuk ibu yang kasar pada anaknya ini?</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Jujurlah, hal-hal semacam itu kadang memang kita temukan dan kita lihat sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ibu yang tidak sabar melihat tingkah laku anaknya yang bandel dan tidak mau dinasehati. Atau jangan-jangan… ibu-ibu yang seperti ini adalah cerminan ibu kita sendiri? <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> Hmm… Tidak perlu juga rasanya dijawab. Lebih baik renungkan saja, apakah sikap seperti ini adalah sikap yang pantas bagi seorang ibu kepada anaknya? Bagaimana dengan kasus-kasus yang lebih ekstrim? Tentang ibu-ibu yang pernah dengan sengaja membunuh anaknya sendiri karena berbagai macam alasan? *lihat <a title="Lagi, Ibu Kandung Membunuh Dua Anaknya" href="http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2008/03/23/55876/-Lagi-Ibu-Kandung-Membunuh-Dua-Anaknya-" target="_blank">di sini</a> dan <a title="Alasan Ibu Kandung Membunuh Agnes" href="http://metro.vivanews.com/news/read/211149-alasan-ibu-kandung-membunuh-agnes" target="_blank">di sini</a> dan masih banyak artikel lain yg bisa dicari di Google* Masihkah berlaku kalimat : Surga berada di bawah telapak kaki ibu?</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Oh, maaf… Rasanya saya lebih setuju dengan judul di atas. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/07/01/surga-tidak-selalu-berada-di-bawah-telapak-kaki-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka-mereka yang Jauh akan Rejeki</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 10:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah rumah makan bersama ibu saya. Saat itu, padahal pengunjung rumah makan tersebut bisa dibilang sepi. Hanya sekitar 2 meja saja yang terisi. Saya hanya melihat 2 orang pelayan di sana dan rumah makan tersebut memang tidak besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Saat itu saya lihat hanya 1 pelayan saja yang sibuk melayani pengunjung lain. Yang 1 nya lagi tampak mondar mandir ke sana ke mari entah mengurus apa. Ibu saya sudah berkali-kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/11720997/2/istockphoto_11720997-dinner-server-using-a-pda.jpg" alt="" width="206" height="285" />Suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah rumah makan bersama ibu saya. Saat itu, padahal pengunjung rumah makan tersebut bisa dibilang sepi. Hanya sekitar 2 meja saja yang terisi. Saya hanya melihat 2 orang pelayan di sana dan rumah makan tersebut memang tidak besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Saat itu saya lihat hanya 1 pelayan saja yang sibuk melayani pengunjung lain. Yang 1 nya lagi tampak mondar mandir ke sana ke mari entah mengurus apa. Ibu saya sudah berkali-kali mencoba memanggil salah 1 dari mereka untuk memesan makanan. Namun tidak ada 1 pun dari mereka yang sekedar menoleh, bahkan ketika kedua pelayan tersebut tampak sudah tidak terlalu sibuk. Melihat kejanggalan ini, ibu saya langsung kesal. Beliau langsung mengajak saya keluar dari rumah makan tersebut dan makan di tempat lain karena kecewa dengan pelayanan (atau lebih tepatnya pengabaian) yang kami terima. Hmmm… Saya jadi tidak heran kenapa rumah makan tersebut sepi. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-71"></span>Di hari yang lain, saya pernah menunggu angkot di sebuah halte. Tak jauh dari sana ada sekelompok tukang ojek yang sedang mangkal sambil menunggu penumpang. Namun, tiap kali ada perempuan muda yang lewat, para tukang ojek ini tak segan untuk menggoda. Bahkan juga berani agak mengikuti perempuan-perempuan muda ini berjalan dari belakang. Tentu sikap mereka yang cenderung nekad ini malah membuat risih. Padahal mungkin saja, beberapa dari para perempuan yang mereka goda itu sebenarnya adalah calon penumpang ojek-ojek tersebut. Namun karena sikap kurang sopan yang ditunjukkan oleh para tukang ojek yang kecentilan itu, para calon penumpang ini tidak jadi menggunakan jasa mereka. Bukannya mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadilah para tukang ojek ini “kenyang” hanya dengan menggoda anak gadis orang. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Lain lagi dengan yang baru saja saya alami kemarin malam. Saya pergi ke sebuah toko kelontong untuk membeli sebotol minuman bersama seorang rekan. Anehnya saat kami hendak membayar, sang kasir ternyata malah sedang tidur di atas “meja kerja”-nya. Sudah berkali-kali rekan saya memanggil, namun sang kasir tidak juga bangun. Hingga akhirnya seseorang yang sepertinya mengenal kasir tersebut datang dan memanggil namanya, barulah ia mulai terbangun. Itu pun bukan kami duluan yang dilayani meskipun kami lah yang duluan datang. Kasir tersebut malah mendahulukan kenalannya itu meskipun rekan saya sudah menyodorkan uang sepuluh ribu di hadapannya. Sungguh tidak sopan! Saat itu juga mendadak kami menyesal. Tau begitu lebih baik kami tinggalkan saja toko kelontong tersebut dengan membawa minuman yang kami ambil TANPA kami bayar saat sang kasir tengah tertidur lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, saya salut pada orang-orang yang tak punya uang namun mau berusaha keras untuk mencari nafkah. Tapi saya jauh lebih salut pada mereka-mereka yang meskipun sudah punya uang banyak, namun masih mau berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah dan melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya. Oh, jangan tanyakan bagaimana respek saya terhadap mereka-mereka yang sudahlah tidak punya uang, namun juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari nafkah. Kalian pasti sudah tau jawabannya… <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para ABG yang Berisik Itu&#8230;</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Biarkanlah saya posting dengan agak sinis kali ini. Sudah beberapa kali ketika saya makan di suatu tempat, di tempat yg sama ada segerombolan ABG yang sedang ngumpul. Semakin banyak temennya yg datang maka gerombolan itu akan semakin berisik. Dan tentu saja, kehebohan mereka cukup mengganggu bagi orang sekitar. Yang tadinya bisa makan dengan tenang, atau makan sambil ngobrol dengan orang lain, jadi tidak nyaman karena tidak bisa mendengar dgn baik omongan orang yg sedang ngobrol dgn kita. &#160; Mendadak saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/989186/2/istockphoto_989186-group-of-men-looking-at-two-males.jpg" alt="" width="270" height="189" />Biarkanlah saya posting dengan agak sinis kali ini. Sudah beberapa kali  ketika saya makan di suatu tempat, di tempat yg sama ada segerombolan  ABG yang sedang ngumpul. Semakin banyak temennya yg datang maka  gerombolan itu akan semakin berisik. Dan tentu saja, kehebohan mereka  cukup mengganggu bagi orang sekitar. Yang tadinya bisa makan dengan  tenang, atau makan sambil ngobrol dengan orang lain, jadi tidak nyaman  karena tidak bisa mendengar dgn baik omongan orang yg sedang ngobrol dgn  kita.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendadak saya keinget twitnya <a href="http://itemaniz.matriphe.com/">Uthie</a> yg kurang lebih begini :</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-tMyEmH9EpVc/TcT-oIMulcI/AAAAAAAAA1Q/UmUsf3obLRw/s320/twit%2Buthie.png" alt="" width="320" height="146" /><p class="wp-caption-text">twit uthie</p></div>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-63"></span>Hahaha&#8230; Ya, ada benernya juga. Mungkin memang  lg jamannya jg para ABG itu heboh-heboh nggak jelas dan pecicilan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Well&#8230; Saya memang pernah <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=1292">posting</a> bagaimana berisiknya gerombolan saya  di kos lama saat masih kuliah dulu. Tapi sumpah, yg ketawanya berisik  itu bukan saya! *tunjuk-tunjuk <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=1813">Vely</a>* Gimana bisa saya berisik? Wong kalo  ngomong aja volume suara saya keciiiilll banget! Boleh tanya sama yg  udah pernah ketemu saya, deh. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya saya memang nggak suka mendengar suara yg keras. Itulah  kenapa saya nggak suka ke acara2 yg cukup rame. Itu jg yg bikin saya  malas nonton film horor atau thriller yg mana sebenernya yg membuat saya  kaget hanyalah volume yg terlalu lebay di suatu adegan tertentu. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /> Itu  jg yg bikin saya nggak bisa akrab sama anjing karena gonggongannya yg  bikin jantung saya berdegup nggak karuan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Di suatu malam saya makan sambil santai-santai di sebuah tempat di mana  tak lama kemudian datanglah segerombolan ABG (cowo semua) yg  berisiknyaaa minta ampun! Seolah2 di sana hanya ada mereka dan sama  skali nggak peduli jika ada yg terganggu. Tiap kali ketawa mereka  meledak (kayaknya tiap 5 menit, deh) selalu ada yg menatap dgn sinis ke  arah gerombolan itu. Tp ya mereka cuek aja gitu. Sikap cuek dirasa keren  banget kali ya sama ABG?</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Yg bikin saya heran, sama skali tidak ada teguran dr pihak pengelola  tempat makan tersebut. Bahkan para pengunjung di sana meskipun keliatan  nggak suka, jg tidak ada yg menegur. Apa karena gerombolan ABG ini  banyak personilnya dan cowo semua, ya? Jd pada males kalo  buntut-buntutnya cuma adu jotos. ABG gitu kan gampang banget dipancing  emosinya. :[</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya sudah, akhirnya saya mengalah dan segera pulang. Eeeehh&#8230; Sialnya,  ketika saya keluar dari tempat itu para ABG itu pun ikut pulang juga.  Aaaaaarrrgghh&#8230; Tau gitu kan saya nunggu mereka pulang aja. =,=&#8217; Tp yg  paling bikin saya menyesal adalah kenapa saya nggak punya cukup nyali  utk menegur para ABG tersebut? Padahal di benak saya, saya sudah memilih  muka-muka yg mana saja yg akan saya tempeleng duluan. :[</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Alasan Kenapa Pemberitaan yang Berimbang Itu Perlu!</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 07:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Konsumen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara soal pelayanan yang tidak memuaskan, pasti tidak akan ada habisnya. Saya pernah dijutekin kasir saat membeli roti di sebuah toko roti hanya gara-gara saya membayar dengan uang 50.000, tidak dengan “uang kecil”. Rasanya saat itu saya pengen balik jutek ke dia. Iya, donk! Wong saya ini konsumen. Masa menyediakan uang kecil adalah tugas saya? Mana ada aturan seperti itu? Akhirnya saya pulang dengan hati dongkol. Padahal bisa saja saya memperpanjang masalah dengan memanggil manager-nya dan mengadukan semua perbuatan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/14656915/2/istockphoto_14656915-coffee-girl.jpg" alt="" width="229" height="256" />Berbicara soal pelayanan yang tidak memuaskan, pasti tidak akan ada habisnya. Saya pernah dijutekin kasir saat membeli roti di sebuah toko roti hanya gara-gara saya membayar dengan uang 50.000, tidak dengan “uang kecil”. Rasanya saat itu saya pengen balik jutek ke dia. Iya, donk! Wong saya ini konsumen. Masa menyediakan uang kecil adalah tugas saya? Mana ada aturan seperti itu? Akhirnya saya pulang dengan hati dongkol. Padahal bisa saja saya memperpanjang masalah dengan memanggil manager-nya dan mengadukan semua perbuatan yang tidak menyenangkan si kasir itu ke saya. Tapi saya urungkan niat tersebut. Saya hanya membalasnya dengan tatapan tajam saat mengambil roti yang sudah saya bayar dan lekas pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa? Toh si kasir juga manusia. Kalau mau berfikir positif, mungkin saat itu adalah hari super sial yang dialami oleh si kasir, yang membuatnya menjadi manusia yang tidak ramah. Nah, beberapa hari kemudian saya kembali ke toko yang sama dan bertemu lagi dengan si kasir. Kali ini sikapnya jauh lebih ramah. Meskipun saya tetap membayar dengan selembar uang 50.000. Hehehe… See? Tak ada salahnya memberi orang lain kesempatan kedua.<span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Di waktu yang lain, file-file kerjaan saya pernah tertinggal di foodcourt sebuah plaza. Saya sempat panik dan meminta tolong seseorang yang saya kenal untuk mengambilnya (karena saat itu saya sedang tidak bisa ke sana). Dan orang tersebut bercerita bahwa tidak sulit menemukan file-file kerjaan saya karena sikap kooperatif janitor plaza tersebut, serta sikap ramah atasannya yang menyerahkan file-file saya. Bahkan mereka menolak ketika diberi imbalan. Jangankan imbalan, saat ditanya siapa yang menemukan dan menyimpan file-file kerjaan yang sangat penting buat saya tersebut, sang atasan tidak mau menjawabnya dan hanya menjawab dengan ramah, “Pokoknya, salah seorang bawahan saya.” Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah saya alami beberapa tahun silam, saat kedua HP saya tak sengaja tertinggal di dalam bioskop dan saya diminta memberikan imbalan pada seseorang yang menemukan HP saya tersebut oleh atasannya sendiri dimana pernah saya ceritakan <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=196">pada postingan ini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, begitulah. Bahkan di tempat yang sama, management yang sama, perusahaan yang sama, sikap pelayanan yang diterima bisa jadi berbeda-beda. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut. Jadi, jangan melulu men-generalisasi dan membuat seluruh orang yang bekerja di sana ikut kena imbasnya. Hal ini buat saya juga berlaku untuk membuat pemberitaan tentang sebuah jasa pelayanan atau produk. Jangan sampai hanya karena ulah sebagian orang, seluruh karyawan yang juga bekerja di sana (bahkan mungkin yang sudah bekerja dengan sangat baik) menderita kerugian. Beberapa pengalaman mengajarkan saya bahwa pemberitaan yang seimbang itu sangat perlu. Meskipun sepertinya, pemberitaan tentang sesuatu yang buruk itu selalu lebih menarik, ya? <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

