<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>keritiKentang™ &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://keritikentang.com/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keritikentang.com</link>
	<description>crispy crunchy yummy yummy...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Jan 2012 05:43:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.1</generator>
		<item>
		<title>Mereka-mereka yang Jauh akan Rejeki</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 10:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah rumah makan bersama ibu saya. Saat itu, padahal pengunjung rumah makan tersebut bisa dibilang sepi. Hanya sekitar 2 meja saja yang terisi. Saya hanya melihat 2 orang pelayan di sana dan rumah makan tersebut memang tidak besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Saat itu saya lihat hanya 1 pelayan saja yang sibuk melayani pengunjung lain. Yang 1 nya lagi tampak mondar mandir ke sana ke mari entah mengurus apa. Ibu saya sudah berkali-kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/11720997/2/istockphoto_11720997-dinner-server-using-a-pda.jpg" alt="" width="206" height="285" />Suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah rumah makan bersama ibu saya. Saat itu, padahal pengunjung rumah makan tersebut bisa dibilang sepi. Hanya sekitar 2 meja saja yang terisi. Saya hanya melihat 2 orang pelayan di sana dan rumah makan tersebut memang tidak besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Saat itu saya lihat hanya 1 pelayan saja yang sibuk melayani pengunjung lain. Yang 1 nya lagi tampak mondar mandir ke sana ke mari entah mengurus apa. Ibu saya sudah berkali-kali mencoba memanggil salah 1 dari mereka untuk memesan makanan. Namun tidak ada 1 pun dari mereka yang sekedar menoleh, bahkan ketika kedua pelayan tersebut tampak sudah tidak terlalu sibuk. Melihat kejanggalan ini, ibu saya langsung kesal. Beliau langsung mengajak saya keluar dari rumah makan tersebut dan makan di tempat lain karena kecewa dengan pelayanan (atau lebih tepatnya pengabaian) yang kami terima. Hmmm… Saya jadi tidak heran kenapa rumah makan tersebut sepi. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-71"></span>Di hari yang lain, saya pernah menunggu angkot di sebuah halte. Tak jauh dari sana ada sekelompok tukang ojek yang sedang mangkal sambil menunggu penumpang. Namun, tiap kali ada perempuan muda yang lewat, para tukang ojek ini tak segan untuk menggoda. Bahkan juga berani agak mengikuti perempuan-perempuan muda ini berjalan dari belakang. Tentu sikap mereka yang cenderung nekad ini malah membuat risih. Padahal mungkin saja, beberapa dari para perempuan yang mereka goda itu sebenarnya adalah calon penumpang ojek-ojek tersebut. Namun karena sikap kurang sopan yang ditunjukkan oleh para tukang ojek yang kecentilan itu, para calon penumpang ini tidak jadi menggunakan jasa mereka. Bukannya mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadilah para tukang ojek ini “kenyang” hanya dengan menggoda anak gadis orang. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Lain lagi dengan yang baru saja saya alami kemarin malam. Saya pergi ke sebuah toko kelontong untuk membeli sebotol minuman bersama seorang rekan. Anehnya saat kami hendak membayar, sang kasir ternyata malah sedang tidur di atas “meja kerja”-nya. Sudah berkali-kali rekan saya memanggil, namun sang kasir tidak juga bangun. Hingga akhirnya seseorang yang sepertinya mengenal kasir tersebut datang dan memanggil namanya, barulah ia mulai terbangun. Itu pun bukan kami duluan yang dilayani meskipun kami lah yang duluan datang. Kasir tersebut malah mendahulukan kenalannya itu meskipun rekan saya sudah menyodorkan uang sepuluh ribu di hadapannya. Sungguh tidak sopan! Saat itu juga mendadak kami menyesal. Tau begitu lebih baik kami tinggalkan saja toko kelontong tersebut dengan membawa minuman yang kami ambil TANPA kami bayar saat sang kasir tengah tertidur lelap.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya, saya salut pada orang-orang yang tak punya uang namun mau berusaha keras untuk mencari nafkah. Tapi saya jauh lebih salut pada mereka-mereka yang meskipun sudah punya uang banyak, namun masih mau berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah dan melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya. Oh, jangan tanyakan bagaimana respek saya terhadap mereka-mereka yang sudahlah tidak punya uang, namun juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari nafkah. Kalian pasti sudah tau jawabannya… <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/21/mereka-mereka-yang-jauh-akan-rejeki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Para ABG yang Berisik Itu&#8230;</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 May 2011 08:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Biarkanlah saya posting dengan agak sinis kali ini. Sudah beberapa kali ketika saya makan di suatu tempat, di tempat yg sama ada segerombolan ABG yang sedang ngumpul. Semakin banyak temennya yg datang maka gerombolan itu akan semakin berisik. Dan tentu saja, kehebohan mereka cukup mengganggu bagi orang sekitar. Yang tadinya bisa makan dengan tenang, atau makan sambil ngobrol dengan orang lain, jadi tidak nyaman karena tidak bisa mendengar dgn baik omongan orang yg sedang ngobrol dgn kita. &#160; Mendadak saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/989186/2/istockphoto_989186-group-of-men-looking-at-two-males.jpg" alt="" width="270" height="189" />Biarkanlah saya posting dengan agak sinis kali ini. Sudah beberapa kali  ketika saya makan di suatu tempat, di tempat yg sama ada segerombolan  ABG yang sedang ngumpul. Semakin banyak temennya yg datang maka  gerombolan itu akan semakin berisik. Dan tentu saja, kehebohan mereka  cukup mengganggu bagi orang sekitar. Yang tadinya bisa makan dengan  tenang, atau makan sambil ngobrol dengan orang lain, jadi tidak nyaman  karena tidak bisa mendengar dgn baik omongan orang yg sedang ngobrol dgn  kita.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendadak saya keinget twitnya <a href="http://itemaniz.matriphe.com/">Uthie</a> yg kurang lebih begini :</p>
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><img src="http://1.bp.blogspot.com/-tMyEmH9EpVc/TcT-oIMulcI/AAAAAAAAA1Q/UmUsf3obLRw/s320/twit%2Buthie.png" alt="" width="320" height="146" /><p class="wp-caption-text">twit uthie</p></div>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-63"></span>Hahaha&#8230; Ya, ada benernya juga. Mungkin memang  lg jamannya jg para ABG itu heboh-heboh nggak jelas dan pecicilan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Well&#8230; Saya memang pernah <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=1292">posting</a> bagaimana berisiknya gerombolan saya  di kos lama saat masih kuliah dulu. Tapi sumpah, yg ketawanya berisik  itu bukan saya! *tunjuk-tunjuk <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=1813">Vely</a>* Gimana bisa saya berisik? Wong kalo  ngomong aja volume suara saya keciiiilll banget! Boleh tanya sama yg  udah pernah ketemu saya, deh. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Pada dasarnya saya memang nggak suka mendengar suara yg keras. Itulah  kenapa saya nggak suka ke acara2 yg cukup rame. Itu jg yg bikin saya  malas nonton film horor atau thriller yg mana sebenernya yg membuat saya  kaget hanyalah volume yg terlalu lebay di suatu adegan tertentu. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /> Itu  jg yg bikin saya nggak bisa akrab sama anjing karena gonggongannya yg  bikin jantung saya berdegup nggak karuan.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Di suatu malam saya makan sambil santai-santai di sebuah tempat di mana  tak lama kemudian datanglah segerombolan ABG (cowo semua) yg  berisiknyaaa minta ampun! Seolah2 di sana hanya ada mereka dan sama  skali nggak peduli jika ada yg terganggu. Tiap kali ketawa mereka  meledak (kayaknya tiap 5 menit, deh) selalu ada yg menatap dgn sinis ke  arah gerombolan itu. Tp ya mereka cuek aja gitu. Sikap cuek dirasa keren  banget kali ya sama ABG?</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Yg bikin saya heran, sama skali tidak ada teguran dr pihak pengelola  tempat makan tersebut. Bahkan para pengunjung di sana meskipun keliatan  nggak suka, jg tidak ada yg menegur. Apa karena gerombolan ABG ini  banyak personilnya dan cowo semua, ya? Jd pada males kalo  buntut-buntutnya cuma adu jotos. ABG gitu kan gampang banget dipancing  emosinya. :[</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya sudah, akhirnya saya mengalah dan segera pulang. Eeeehh&#8230; Sialnya,  ketika saya keluar dari tempat itu para ABG itu pun ikut pulang juga.  Aaaaaarrrgghh&#8230; Tau gitu kan saya nunggu mereka pulang aja. =,=&#8217; Tp yg  paling bikin saya menyesal adalah kenapa saya nggak punya cukup nyali  utk menegur para ABG tersebut? Padahal di benak saya, saya sudah memilih  muka-muka yg mana saja yg akan saya tempeleng duluan. :[</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/07/para-abg-yang-berisik-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Alasan Kenapa Pemberitaan yang Berimbang Itu Perlu!</title>
		<link>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 07:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Suara Konsumen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keritikentang.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara soal pelayanan yang tidak memuaskan, pasti tidak akan ada habisnya. Saya pernah dijutekin kasir saat membeli roti di sebuah toko roti hanya gara-gara saya membayar dengan uang 50.000, tidak dengan “uang kecil”. Rasanya saat itu saya pengen balik jutek ke dia. Iya, donk! Wong saya ini konsumen. Masa menyediakan uang kecil adalah tugas saya? Mana ada aturan seperti itu? Akhirnya saya pulang dengan hati dongkol. Padahal bisa saja saya memperpanjang masalah dengan memanggil manager-nya dan mengadukan semua perbuatan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/14656915/2/istockphoto_14656915-coffee-girl.jpg" alt="" width="229" height="256" />Berbicara soal pelayanan yang tidak memuaskan, pasti tidak akan ada habisnya. Saya pernah dijutekin kasir saat membeli roti di sebuah toko roti hanya gara-gara saya membayar dengan uang 50.000, tidak dengan “uang kecil”. Rasanya saat itu saya pengen balik jutek ke dia. Iya, donk! Wong saya ini konsumen. Masa menyediakan uang kecil adalah tugas saya? Mana ada aturan seperti itu? Akhirnya saya pulang dengan hati dongkol. Padahal bisa saja saya memperpanjang masalah dengan memanggil manager-nya dan mengadukan semua perbuatan yang tidak menyenangkan si kasir itu ke saya. Tapi saya urungkan niat tersebut. Saya hanya membalasnya dengan tatapan tajam saat mengambil roti yang sudah saya bayar dan lekas pulang.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa? Toh si kasir juga manusia. Kalau mau berfikir positif, mungkin saat itu adalah hari super sial yang dialami oleh si kasir, yang membuatnya menjadi manusia yang tidak ramah. Nah, beberapa hari kemudian saya kembali ke toko yang sama dan bertemu lagi dengan si kasir. Kali ini sikapnya jauh lebih ramah. Meskipun saya tetap membayar dengan selembar uang 50.000. Hehehe… See? Tak ada salahnya memberi orang lain kesempatan kedua.<span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Di waktu yang lain, file-file kerjaan saya pernah tertinggal di foodcourt sebuah plaza. Saya sempat panik dan meminta tolong seseorang yang saya kenal untuk mengambilnya (karena saat itu saya sedang tidak bisa ke sana). Dan orang tersebut bercerita bahwa tidak sulit menemukan file-file kerjaan saya karena sikap kooperatif janitor plaza tersebut, serta sikap ramah atasannya yang menyerahkan file-file saya. Bahkan mereka menolak ketika diberi imbalan. Jangankan imbalan, saat ditanya siapa yang menemukan dan menyimpan file-file kerjaan yang sangat penting buat saya tersebut, sang atasan tidak mau menjawabnya dan hanya menjawab dengan ramah, “Pokoknya, salah seorang bawahan saya.” Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah saya alami beberapa tahun silam, saat kedua HP saya tak sengaja tertinggal di dalam bioskop dan saya diminta memberikan imbalan pada seseorang yang menemukan HP saya tersebut oleh atasannya sendiri dimana pernah saya ceritakan <a href="http://nilla.keritikentang.com/?p=196">pada postingan ini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, begitulah. Bahkan di tempat yang sama, management yang sama, perusahaan yang sama, sikap pelayanan yang diterima bisa jadi berbeda-beda. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut. Jadi, jangan melulu men-generalisasi dan membuat seluruh orang yang bekerja di sana ikut kena imbasnya. Hal ini buat saya juga berlaku untuk membuat pemberitaan tentang sebuah jasa pelayanan atau produk. Jangan sampai hanya karena ulah sebagian orang, seluruh karyawan yang juga bekerja di sana (bahkan mungkin yang sudah bekerja dengan sangat baik) menderita kerugian. Beberapa pengalaman mengajarkan saya bahwa pemberitaan yang seimbang itu sangat perlu. Meskipun sepertinya, pemberitaan tentang sesuatu yang buruk itu selalu lebih menarik, ya? <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2011/05/02/inilah-alasan-kenapa-pemberitaan-yang-seimbang-itu-perlu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ternyata, Wanita pun Juga Bisa Begini&#8230;</title>
		<link>http://keritikentang.com/2010/10/20/ternyata-wanita-pun-juga-bisa-begini/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2010/10/20/ternyata-wanita-pun-juga-bisa-begini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 04:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keritikentang.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yg lalu, saya diajak temen kantor (2 orang dan keduanya laki-laki) utk pulang dengan kereta api dalam kota. Kami naik kereta dr Stasiun Tanah Abang sekitar jam 5 sore-an. Saat itu, seperti yg sudah saya duga, stasiun kereta terlihat ramai sekali dgn orang-orang yg sepertinya jg baru pulang kerja. Sesungguhnya itu adalah yg ke-2 kalinya saya naik kereta dalam kota. Sebelum ini, saya pernah naik dari Stasiun Serpong ke Stasiun Palmerah sekitar pukul 6 sore. Saat itu, stasiun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;site=coldwind08.wordpress.com&amp;url=http%3A%2F%2Fsgstb.msn.com%2Fi%2F83%2F4E6FE8A2E70779E9A13E4B146FBEC.jpg&amp;sref=http%3A%2F%2Fcoldwind08.wordpress.com%2F2010%2F10%2F12%2Fkeadilan-dalam-gerbong-khusus-wanita%2F" alt="" width="364" height="253" />Beberapa waktu yg lalu, saya diajak temen kantor (2 orang dan keduanya laki-laki) utk pulang dengan kereta api dalam kota. Kami naik kereta dr Stasiun Tanah Abang sekitar jam 5 sore-an. Saat itu, seperti yg sudah saya duga, stasiun kereta terlihat ramai sekali dgn orang-orang yg sepertinya jg baru pulang kerja. Sesungguhnya itu adalah yg ke-2 kalinya saya naik kereta dalam kota. Sebelum ini, saya pernah naik dari Stasiun Serpong ke Stasiun Palmerah sekitar pukul 6 sore. Saat itu, stasiun tidak terlalu ramai dan bahkan di dalam gerbong pun tampak lengang. Karena lengang, saat itu saya tidak masuk ke dlm gerbong Khusus Wanita yg terdapat pada gerbong 1 dan 6.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nah, ketika berangkat dr Stasiun Tanah Abang inilah saya memutuskan utk mencoba masuk ke dlm gerbong khusus wanita. Sehingga saya memisahkan diri dari kedua teman kantor saya yg laki-laki ini. Saya memutuskan utk masuk ke gerbong khusus wanita karena dlm situasi yg seramai itu, rasanya akan lebih aman dan nyaman berada dlm gerbong khusus wanita ketimbang bercampur dgn pria di gerbong yg lain.<span id="more-46"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ketika saya masuk ke dalam kereta, gerbong khusus wanita itu sudah ramai. Sehingga saya tidak kebagian tempat duduk. Sebelum kereta jalan, tidak jauh dr tempat saya berdiri, tiba-tiba ada seorang wanita yg berkata, &#8220;Maaf ibu-ibu&#8230; mbak-mbak&#8230; Ini ada perempuan yg sedang hamil. Tolong, ada yg mau ngalah dan memberikan tempat duduknya ke perempuan ini?&#8221;. Mata saya lalu tertuju pd perempuan hamil yg sebut-sebut. Benar saja. Perutnya terlihat membesar meskipun belum benar-benar besar. Lalu perhatian saya beralih pd wanita-wanita yg duduk di depannya. Sudah cukup lama si mbak yg tadi &#8220;menegur&#8221; mereka, namun belum ada 1 pun yg memberikan tempat duduknya pada perempuan hamil tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Astaga! Ini membuat kening saya berkerut. Saya lihat di antaranya ada yg (mungkin) pura-pura tidur, ada yg terlihat asyik mengobrol, ada jg yg terlihat sibuk dengan HP-nya. Seolah tidak ada yg terusik dgn &#8220;teguran&#8221; si mbak yg tadi. Entah memang tidak dengar atau memang pura-pura tidak mendengarkan. Ini sebenarnya bukan kejadian pertama yg pernah saya lihat. Di dlm bus transJakarta pun, saya jg pernah melihat orang-orang yg pura-pura tidak terusik meskipun di depannya ada orang tua, anak kecil, atau pun ibu hamil yg tidak kebagian tempat duduk. Tapi ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. INI KAN DI GERBONG KHUSUS WANITA!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ternyata, sesama wanita pun bisa saling mengacuhkan. Apakah diantara mereka tidak ada yg pernah menjadi ibu? Dimana hati nurani mereka melihat ibu hamil berdiri di dlm kereta? Bukankah katanya wanita itu perasaannya sensitif? Atau hal itu cuma dugaan yg sudah usang dimakan jaman? Mungkin, kalau si ibu hamil ini berada di gerbong lain (yg bukan khusus wanita), barangkali sudah ada paling tidak 1 laki-laki yg memberikan tempat duduknya. Ah, rasanya nanti kalau saya hamil, lebih baik saya memilih duduk di gerbong lain yg tidak khusus wanita saja. <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_neutral.gif' alt='&#58;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#124;' /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Namun, untungnya&#8230; Beberapa saat kemudian ada seorang ibu yg duduknya agak jauh dr perempuan hamil ini berdiri dan berkata, &#8220;Mbak, sini&#8230; Duduk di sini aja.&#8221; Alhamdulillah&#8230; Ternyata masih ada wanita yg benar-benar menggunakan hati nuraninya. Meskipun kayaknya sekarang orang yg seperti ini sudah cukup sulit ditemukan, ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2010/10/20/ternyata-wanita-pun-juga-bisa-begini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu Nggak Sih Jadi Orang Indonesia?</title>
		<link>http://keritikentang.com/2010/09/06/malu-nggak-sih-jadi-orang-indonesia/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2010/09/06/malu-nggak-sih-jadi-orang-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Sep 2010 07:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keritikentang.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yg lalu, nggak sengaja saya menumpang 1 angkot yg sama dgn seorang bule. Dan entah kenapa, tumben-tumbennya jalan yg dilalui angkot macet banget. Seperti kebanyakan supir angkot, supir angkot yang mengendarai angkot yg saya tumpangi saat itu mengendarai angkotnya secara ugal-ugalan. Kadang suka berhenti mendadak, kadang kalau belok jg nggak kira-kira, kalo lewat jalan yang berlubang jg saat angkot dlm keadaan ngebut. Wah, pokoknya bikin penumpang diacak-acakan lah dlm angkot tersebut. Nah, bule yg saat itu duduk di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com//file_thumbview_approve/6759766/2/istockphoto_6759766-bucket-surprise.jpg" alt="" width="280" height="280" />Beberapa waktu yg lalu, nggak sengaja saya menumpang 1 angkot yg sama dgn seorang bule. Dan entah kenapa, tumben-tumbennya jalan yg dilalui angkot macet banget. Seperti kebanyakan supir angkot, supir angkot yang mengendarai angkot yg saya tumpangi saat itu mengendarai angkotnya secara ugal-ugalan. Kadang suka berhenti mendadak, kadang kalau belok jg nggak kira-kira, kalo lewat jalan yang berlubang jg saat angkot dlm keadaan ngebut. Wah, pokoknya bikin penumpang diacak-acakan lah dlm angkot tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nah, bule yg saat itu duduk di depan saya keliatan banget makin stress. Saya mulai bisa melihat butiran-butiran keringat dari dahinya. Wajahnya yg putih malah jd tampak semakin pucat. Duh, pokoknya saya jd kasian deh ngeliatnya. Keliatan banget kalo si bule baru kali itu naik angkot. Saya bahkan berani taruhan, mungkin si bule bakal janji dlm hatinya kalo dia nggak akan pernah naik angkot lg. *ok, saya mulai lebay*</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tapi dlm hati saya jd malu. Malu karena merasa ada warga negara asing yg nggak nyaman dgn Indonesia, negara yg saya bangga-banggakan ini. Sama malunya jg seperti waktu salah seorang teman bercerita bahwa teman bulenya kaget begitu dibawa ke toko buku di Indonesia dan berkata, &#8220;Wah, banyak buku tutorial software-software mahal ya di Indonesia? Saya pikir tadinya Indonesia itu negara miskin. Tp ternyata banyak yg mampu beli software mahal sampai buku-buku tutorialnya jd banyak beredar.&#8221;<span id="more-42"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wew&#8230; Nggak tau aja si bule kalo di Indonesia ini bahkan masih banyak orang Indonesia sendiri yg belum tau kalo software yg mereka pakai sehari-sehari itu adalah software bajakan. Sementara, menggunakan software bajakan di negara lain adalah hal yg memalukan. Bahkan bisa langsung dipidanakan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yah, saya tau. Situasi di tiap negara mungkin memang kadang nggak sesuai dgn tabiat warga asingnya. Tp hey&#8230; Akuilah! Kayaknya hal-hal memalukan yg ada di Indonesia ini bisa masuk dlm kategori yg cukup parah. Ya ya ya&#8230; Mungkin sebagian dr kita akan menghibur diri, &#8220;Tp kan masih banyak yg bisa dibanggakan dari Indonesia.&#8221; Ok lah. Mungkin itu memang benar. Tp itu hal yg lain lg. Saya nggak bisa tiba-tiba menghilangkan rasa malu saya sbg orang Indonesia saat melihat ada warga negara asing yg nggak nyaman duduk di dlm angkot yg sama dgn saya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jujur, saya malu. Dan saya senang bisa merasa malu. Karena itu artinya saya menyadari ada yg salah dgn kebiasaan orang-orang di Indonesia ini. Kita mungkin dibiasakan hidup dlm lingkungan yg berdamai dgn hal-hal yg salah. Kenapa? Karena kita cenderung tidak malu melakukan kesalahan di depan saudara sebangsa kita sendiri. Tp ketika yg kita hadapi adalah &#8220;orang asing&#8221;, barulah kita merasa malu karena sudah menjadi bangsa yg sangat permisif sehingga kadang merugikan beberapa pihak lain.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi, budayakanlah rasa malu itu sebelum melakukan sesuatu yg sebenarnya kita sendiri tau bahwa itu salah. Terutama kalau ada &#8220;orang asing&#8221;. Eitz&#8230; Tp inget, &#8220;malu&#8221; dan &#8220;minder&#8221; itu 2 hal yg berbeda loh, ya! Malulah kalau melakukan sesuatu yg salah. Tp tetep bangga dgn potensi-potensi positif yg ada di Indonesia ini! <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> Nggak perlu minder! Kita cuma perlu mengurangi sikap-sikap permisif yg sudah mendarah daging dlm tubuh dan lingkungan kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2010/09/06/malu-nggak-sih-jadi-orang-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ah, prihatinmu itu PALSU!</title>
		<link>http://keritikentang.com/2010/06/11/ah-prihatinmu-itu-palsu/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2010/06/11/ah-prihatinmu-itu-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 09:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Maya]]></category>
		<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keritikentang.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Waktu video mesum itu rame digembar-gemborkan, banyak orang yg mengaku prihatin. Ada yg bilang, &#8220;Duh, kasian banget itu si artis yg dianggap terlibat. Namanya tercoreng.&#8221; atau &#8220;Kasian keluarganya jd malu&#8221; atau &#8220;Pasti nanti si artis jd kehilangan job. Kasian banget. Jadi prihatin, deh&#8230;&#8221;. Nggak sedikit jg yg menyampaikan simpatinya kepada si artis yang bersangkutan melalui komentar di media berita online, atau bahkan ke akun twitter si artis tersebut. Tapi apa iya mereka semua itu beneran prihatin? Coba deh ya, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/220558/2/istockphoto_220558-angst.jpg" alt="" width="185" height="278" />Waktu video mesum itu rame digembar-gemborkan, banyak orang yg mengaku prihatin. Ada yg bilang, &#8220;Duh, kasian banget itu si artis yg dianggap terlibat. Namanya tercoreng.&#8221; atau &#8220;Kasian keluarganya jd malu&#8221; atau &#8220;Pasti nanti si artis jd kehilangan job. Kasian banget. Jadi prihatin, deh&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nggak sedikit jg yg menyampaikan simpatinya kepada si artis yang bersangkutan melalui komentar di media berita online, atau bahkan ke akun twitter si artis tersebut. Tapi apa iya mereka semua itu beneran prihatin?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Coba deh ya, dari semua orang yg mengaku prihatin itu, berapa persen yg sama sekali TIDAK mendownload video mesum tersebut? Berapa persen yg tidak penasaran? Berapa persen yg bener-bener cuek dengan isi dari video itu?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya cukup kaget juga ketika bercakap-cakap dengan seorang temen dan dia bilang :<span id="more-37"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gue kasian banget sama si artisnya. Kalo jadi dia, gue pasti udah pindah warga negara. Malu banget itu, bok&#8230; Eh tapi ya, lo udah liat video nya belom? Gila, emang mirip banget, loh!!!&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">HAH? HAH? HHHAAAAAHHH???</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitukah caramu menunjukkan rasa priharin???</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ah, prihatinmu itu <strong>PALSU</strong>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2010/06/11/ah-prihatinmu-itu-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jangan Ajak Aku Nonton, Mama&#8230; Aku Takut!&#8221;</title>
		<link>http://keritikentang.com/2010/05/17/jangan-ajak-aku-nonton-mama-aku-takut/</link>
		<comments>http://keritikentang.com/2010/05/17/jangan-ajak-aku-nonton-mama-aku-takut/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 May 2010 04:58:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nilla</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.keritikentang.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yg lalu, saya menonton film &#8220;Daybreakers&#8221; bersama pasangan. Kalau dilihat dari sini, genre nya adalah film Action, Drama, Horror, Sci-Fi, Thriller. Nah di sini pun sudah disebutkan bahwa film ini untuk &#8220;Dewasa (adult)&#8221;. Jadi sebenarnya sudah jelas kan siapa target penontonnya? FYI, buat yang belum menonton film ini&#8230; saya kasih bocoran. Bahwa di film ini ada banyak adegan yang &#8220;mengerikan&#8221;. Mulai dari darah-darah muncrat sampai organ-organ manusia yang buntung (tanpa sensor, tentu saja) tampil dalam film ini. Nah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" src="http://www.istockphoto.com/file_thumbview_approve/6992620/2/istockphoto_6992620-kid-watching-tv.jpg" alt="" width="234" height="234" />Beberapa waktu yg lalu, saya menonton film &#8220;<a title="di wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Daybreakers">Daybreakers</a>&#8221; bersama pasangan. Kalau dilihat <a href="http://www.imdb.com/title/tt0433362/">dari sini</a>, genre nya adalah film Action, Drama, Horror, Sci-Fi, Thriller. Nah <a title="bioskop 21" href="http://21cineplex.com/daybreakers,movie,2287.htm">di sini</a> pun sudah disebutkan bahwa film ini untuk &#8220;Dewasa (adult)&#8221;. Jadi sebenarnya sudah jelas kan siapa target penontonnya? FYI, buat yang belum menonton film ini&#8230; saya kasih bocoran. Bahwa di film ini ada banyak adegan yang &#8220;mengerikan&#8221;. Mulai dari darah-darah muncrat sampai organ-organ manusia yang buntung (tanpa sensor, tentu saja) tampil dalam film ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Nah, yang menarik adalah&#8230; sudah berkali-kali, ketika saya menonton film yang &#8220;mengerikan&#8221; dan sudah jelas-jelas ditujukan untuk penonton dewasa, masih saja ada penonton yang membawa anaknya yang masih kecil untuk ikut menonton film tersebut. Saya nggak kebayang yah gimana rasanya jadi anak-anak itu. Menonton film yang seperti itu di TV saja pasti sudah bikin takut dan susah tidur. Apalagi kalau mereka menontonnya di bioskop? Nggak jarang loh saya lihat para orang tua itu &#8220;membantu&#8221; menutup mata anaknya yang ketakutan. Apakah itu solusi???<span id="more-33"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Saya masih nggak habis pikir. Apa yang membuat para orang tua itu &#8220;terpaksa&#8221; membawa anak mereka yang masih kecil untuk ikut menonton film-film yang sebenarnya tidak layak untuk mereka tonton? Tidak terbayang efeknya kah? Tidak mengerti apa yg dirasakan anak-anak mereka ketika melihat adegan-adegan yang menyeramkan itu??? *pasang muka serius* Pengen banget nonton, tapi nggak ada yang menjaga anaknya? Ya sewa DVD aja sana! Nonton di dalam kamar saat anak-anak sudah terlelap. Kenapa harus ngotot membawa anak ikut masuk ke dalam bioskop, sih??? Dasar orang tua egois!!! *mulai sebel*</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">By the way&#8230; Di waktu yang berbeda di saat saya sedang mengantri untuk membeli tiket di sebuah bioskop (juga bersama pasangan *uhuk*), seorang kakek di depan saya tengah memarahi si mbak penjual tiket. Saya mendengar si kakek berkata, &#8220;Tadi cucu saya masuk ke studio itu, kan? Nonton film itu, kan? Itu kan bukan film utuk anak-anak! Kenapa cucu saya dibiarkan masuk? Bagaimana kalian ini? Mau cari duit saja, tapi tidak memperhatikan dan mempedulikan siapa penontonnya! Mau dibawa kemana negara ini kalau orang-orangnya cuma mikirin duit seperti kalian?&#8221; *serius si kakek ngomong persis kayak gini*</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jadi, kesalahan bukan hanya ada di orang tua saja ternyata. Tapi juga di petugas bioskop! <img src='http://keritikentang.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keritikentang.com/2010/05/17/jangan-ajak-aku-nonton-mama-aku-takut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

