Book Review: Frankfurt to Jakarta

Judul Buku: Frankfurt to Jakarta: Janji, Kenangan & Takdir
Penulis: Leyla Hana & Annisah Rasbell
Editor: Tim Edu Penguin
Penerbit: Edu Penguin
ISBN: 602-17777-2-7
Harga Buku: Rp. 45.000
Tebal Buku: 320 halaman

Cover novel Frankfurt to Jakarta.
Sumber photo: blog mbak Leyla Hana

“Aku mencari kesempatan, bukan jaminan. Hidup tidak memegang janji, untuk setiap kejadian yang akan menghampiri. Aku berusaha berdiri tegak pada keyakinan dan tujuan, berharap segala yang terbaik. Tidak harus menang, tapi setidaknya aku tahu apa saja yang diperlukan untuk menjadi pemenang.” ~ Rianda

Kisah bermula saat Rianda baru saja tiba di Frankfurt untuk melajutkan pendidikan pasca sarjana. Di sana ia tinggal bersama sahabatnya, Zefa. Dari Zefa ia berkenalan dengan Fedi, laki-laki yang sempat memikat perhatiannya. Kemudian diceritakan tentang seorang gadis bernama Andini, gadis yang berasal dari latar belakang keluarga betawi yang kental. Ia tengah berkuliah di IPB dengan bantuan beasiswa yang berhasil diraihnya. Hampir setiap hari ia harus berdebat (bathin) dengan segala sudut pandang orang tua yang bertolak belakang dengannya. Mulai dari perdebatan mengenai anak perempuan yang dinilai tidak perlu sekolah tinggi-tinggi hingga tentang perjodohannya dengan Fedi. Kisah cinta segitiga ini semakin rumit ketika Rianda harus melepas Fedi kembali ke Indonesia, Fedi sempat menjanjikan sesuatu kepadanya. Sementara Andini yang tadinya menolak perjodohannya dengan Fedi tiba-tiba berubah pikiran. Ia juga harus mempertimbangkan kembali mimpi-mimpinya sebagai konsekuensi dari jalan hidup yang ia pilih.

Seperti yang tergambar pada kisah di atas, buku ini bertema tentang cinta segitiga. Pada bagian pertama, kita akan membaca gambaran cerita dari sudut pandang Rianda, namun pada bagian kedua berubah menjadi Andini. Begitulah seterusnya sudut pandang si pencerita berubah selang seling hingga akhir cerita. Sedangkan sosok Fedi selalu menjadi pemeran kedua. Tidak ada bagian di mana si pencerita menjelaskan cerita dari sudut pandang Fedi. Sepertinya kita semua sengaja dibuat menerka-nerka tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan Fedi.

Buku ini dikemas dengan latar tempat yang digambarkan mendalam oleh penulis. Seperti pada saat penulis menceritakan mengenai kehidupan Rianda dan teman-temannya di Frankfurt, semua hal mengenai Frankfurt, sistem perkuliahan di sana, dan lain-lain diceritakan dengan detail di buku ini. Sama seperti saat si penulis sedang menceritakan mengenai latar tempat Andini tinggal dan berkuliah. Sangat jelas terlihat si penulis menguasai latar yang dibuat. Penokohannya juga kuat. Semua profesi yang ditekuni oleh para tokoh utama dijelaskan dan “bermain” di dalam cerita, tidak ada penokohan yang hanya asal “tempel”. Mungkin karena para penulis memang sudah tidak asing dengan latar tempat dan penokohan yang diceritakan, ya..? Jadi sepertinya tidak terlalu sulit bagi penulis untuk mengeksplornya di dalam cerita :)

Buku setebal 320 halaman ini aku baca habis dalam waktu 3 jam ditengah-tengah nyalon. Mungkin karena aku cukup penasaran dengan ending-nya *meskipun aku sempat “curang” membuka beberapa halaman terakhir :D *. Ada bagian yang terasa “makjleb” buatku, khususnya pada kehidupan Andini. Mungkin karena aku juga pernah merasakan hectic-nya mengurus sendiri rumah dan anak tanpa bantuan asisten rumah tangga, tinggal jauh dari keluarga, memberi ASI, membuat MPASI homemade, dll.. *eaaa.. malah jadi curcol :)) *. Karena sempat larut dalam penokohan Andini inilah aku jadi ikut kesal dan sebel dengan hal-hal yang menyakitkan yang harus diterima Andini. Seperti saat Fedi berlaku kasar pada Andini, mendadak rasanya ingin banget ngejitak Suamiku sendiri ;)) *Padahal Suamiku gak salah apa-apa :P .

Sayangnya, aku agak kurang puas dengan ending pada buku ini. Ada rasa kurang sreg ketika penulis memaparkan nasib salah satu tokoh (idolaku) pada akhir kisah *Aaaakkk… aku gak terima! :D* . Ini penilaian subjektifku yang terlanjur larut mendalami peran salah satu tokoh kali ya..?? Hehehe ;)) Selain itu, ada beberapa bagian yang aku skip, atau lebih tepatnya fast reading. Karena menurutku bagian itu tidak terlalu menyupport inti cerita :). Sedangkan untuk latar tempatnya, karena aku gak begitu familiar dengan Frankfurt, Bogor, atau pun Depok, aku jadi kurang bisa menikmati detail yang digambarkan penulis. Mungkin lain halnya dengan orang yang sudah familiar atau punya antusiasme tersendiri untuk mengenal tempat-tempat tersebut, bisa saja mereka merasakan hal yang berbeda seperti bernostalgia dan bisa sangat menikmati detail yang digambarkan oleh penulis :)

Meskipun begitu buku ini sukses menghipnotis dan membuatku larut menikmati alur ceritanya yang mudah dipahami. Aku bisa merasa senang, sedih, marah, terharu, dan geram sendiri saat membacanya. Penulis juga sukses membuat aku jatuh cinta (sekaligus benci) dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan. Selain itu kalimat-kalimat indah hampir pada tiap bagian di buku ini membuat aku merasa wajib membuka-buka lagi buku ini di lain waktu ;)

Overall, novel ini menarik, aku beri 7.8/10 Heart Potatoes untuk Frankfurt to Jakarta! ;)

heartpotato1

6 Responses to Book Review: Frankfurt to Jakarta

  1. Hoaaa… dapat rating 7/8? Gak nyangka..
    makasih reviewnya, Mbak Nike :-)

  2. jadi penasaran.nyari ah….

  3. Hihihi bener lhooo saya bacanya juga ga bisa stop. Sampai jam 2 pagi gara2 penasaran dan gemes dg si Fedi. Akibatnya esoknya nyaris kesiangan….

  4. Duh, makin pengen baca novel Mbak Ela inih, mentor saya di BAW :)

  5. nice.. gak nyangka berteman sama penulis beken.. ntr sy ubek2 Gramed Sby n sy cr buku2nya mbk Leyla Hana.. :)

  6. Hah nasib toko idolamu sapa Niek? Kuciwa gimana Niek? *jd penasaran maksudnya gimana :D*

    aku menunggu kritik yg pedes… Malah dpt potatoes lmyn banyak…huuuaahhh ga nyangka *jd geee*….serius tuh Niek??!!??

    Anyway thanks a lot for revi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *