Cerita di Balik Noda by Fira Basuki

Sewaktu dapat kabar soal buku ini, Saya langsung ingin beli. Saya sampai beli di kota, yang menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari kota kecil tempat Saya tinggal sekarang (dan ya.. Saya lupa kalau buku ini juga dijual online :D ). Hehehe.. kok segitu ngebetnya ya Saya? Sebelum Saya tuliskan alasannya, yuk kita baca dulu review Saya tentang buku ini ;)

Judul Buku: Cerita di Balik Noda

Penulis: Fira Basuki

Editor: Chandra Gautama

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Harga Buku: Rp. 40.000

Tebal Buku: +/- 234 halaman

sumber photo: http://emak2blogger.web.id

Tentang Buku ini:

Buku ini merupakan kumpulan 42 kisah dengan tema Buku Cerita di Balik Noda dan Berani Kotor itu Baik. 4 Kisah karya Fira Basuki adalah; “Bos Galak”, “Sarung Ayah”, “Pohon Kenangan” dan “Foto”. Sedangkan 38 kisah lainnya diceritakan dan ditulis ulang oleh Fira Basuki dari karya 38 orang peserta lomba menulis “Cerita di Balik Noda” yang sebelumnya diadakan oleh Rinso. Fira Basuki tak hanya menuliskan kembali kisah-kisah tersebut tapi juga membuat judul baru, namun nama penulis dan judul asli seluruh kisah tetap disebutkan di tiap akhir cerita.

Tentang Isi:

Seperti temanya, banyak kisah di dalam buku ini yang menceritakan tentang sosok anak-anak yang rela kotor-kotoran demi melakukan sesuatu yang baik. Seperti pada kisah; “Celengan”, “Nasi Bungkus Cinta”, “Seribu Cinta”, “Untuk Bu Guru”, dan beberapa kisah lainnya. Pada tiap kisah diceritakan kejadian-kejadian heroik yang mereka lakukan dan semuanya berhubungan dengan kotoran.

Ada juga kisah-kisah tentang anak-anak yang memiliki masalah pada kesehatan dan tumbuh kembang mereka, seperti pada kisah; “100 Hari Menanti”, “Baju Boneka”, “Boneka Beruang Zidan”, “Kaki Harus Kotor”, “Di Balik Musibah” dan “Teman Sejati”. Diceritakan bagaimana para orang tua berusaha melakukan yang terbaik untuk kemajuan anak-anaknya dan bagaimana kotoran memberikan hikmah positif bagi kemajuan mereka. Bagian paling menariknya buat Saya adalah saat diceritakan bagaimana anak-anak ini struggle dari bully-an orang-orang di lingkungan mereka, dan pada akhirnya ditiap pengalaman itu ada “buah manis” yang mereka dapatkan :) Kisah-kisah haru lainnya juga terdapat dibeberapa kisah tentang orang-orang yang ditinggal mati oleh orang yang mereka sayangi, “Sarung Ayah” dan “Untuk Papa”, misalnya.

Beberapa kisah lain menceritakan sosok anak-anak yang kreatif dan berprestasi. Seperti pada kisah; “Koki Cilik”, “Master Peace”, “Baju Kreatif” dan “Garuda di Dada Kiriku”. Pada kisah-kisah tersebut digambarkan bahwa semua hasil kreatifitas dan prestasi anak-anak ini tak lepas dari peran orang tuanya yang membiarkan anak-anak mereka berkotor-kotor untuk bebas berekspresi. Ada juga beberapa kisah yang menceritakan tentang prahara rumah tangga, seperti pada kisah; “Foto” dan “Tak Jadi”. Sedangkan beberapa kisah lain dikemas dengan nuansa sedikit misteri, seperti “Siluman Tikus” dan “Kucing dan Rejeki”.

Pendapat Saya tentang Buku Ini:

headerCDN

Ringan dan inspiratif. Dua kata ini mewakili pendapat Saya secara keseluruhan mengenai buku ini. Beberapa kisahnya bahkan mungkin pernah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ending-nya pun dikemas manis, mengajak Saya untuk ikut berfikir dan merenungkan kembali kisah yang baru saja  Saya baca.

Namun, ada beberapa hal yang menurut Saya perlu diperbaiki. Misalnya seperti pada kisah “Sarung Ayah”. Sosok anak semata wayang Hani dan alm. Hendro dikisahkan bernama “Dewi” pada halaman 55. Lalu pada halaman 56 ada sosok “Wulan”, adik alm. Hendro. Tapi kemudian pada halaman 57 disebutkan bahwa Wulan adalah anak Hani dan alm. Hendro, setelah itu nama “Dewi” tak muncul lagi. Saya sempat membaca kisah ini bolak balik untuk memastikan kembali sebenarnya siapa nama anak Hani dan alm. Hendro? Tapi kemudian paham mungkin ada kesalahan di sini :) Selain itu juga terdapat beberapa kesahalan kecil, misalnya pada tanda baca dan penulisan. But that’s okay, karena ini tidak sampai merubah maksud cerita :)

By the way, kembali ke pertanyaan, “kenapa sih, kok ngebet banget beli buku ini?”.

Sebenarnya, Saya bukan tipe Ibu yang berani membiarkan anak Saya berkotor-kotor. Mungkin karena pernah trauma melihat anak terkena diare. Sejak saat itu Saya terlalu berhati-hati menjaga kebersihan anak. Sampai-sampai terapisnya pernah bilang, “Ibu, Alif tidak mau menapakkan kaki sedikitpun ke tanah tanpa alas kaki..”, atau, “Ibu, Alif tidak mau memegang sendiri makanannya yang lengket”. Nah, anggaplah membeli buku ini adalah salah satu upaya damai Saya dengan diri sendiri :) Kisah-kisah di buku ini seolah-olah memberikan pengertian kepada Saya, bahwa kotoran juga bisa berdampak baik untuk anak, khususnya untuk kekreatifitasannya. Kreatifnya anak bisa berujung pada amal baik dan prestasinya. :)

Overall, untuk kisah-kisahnya yang inspiratif, Saya beri 8/10 Heart Potatoes untuk buku “Cerita di Balik Noda”! ;)

heartpotato4

Note: review ini Saya sertakan dalam lomba review buku “Cerita di Balik Noda” yang diadakan oleh KEB (Kumpulan Emak Blogger) bekerja sama dengan Rinso.

KEB

6 Responses to Cerita di Balik Noda by Fira Basuki

  1. Kripikentang…keren ulasannya. Aku juga suka takut anak kotor, tapi ternyata jika kita menghambat kreatifitas anak, malahan itu awal, anak kita berhenti berimaginasi. ehheee….suka disentil suamiku kalau dah mulai rempong dengan crewet “jangan main ini, jangan main itu…” hehee..

    Salam kenal mba, aku juga sudah review ini…gud Lak y

  2. Kereen Mak riviewnya..
    wadooh dapetin buku ini 3 jam perjalanan #sebuah perjuangan ya :D

    Mau donk heart potatonya..

    #salam kenal ya

  3. Ahhh… keren sangatttttt. Review nya lengkap banget. Sesuai dengan aturan-aturan review yang beneran. ^__^

    Semoga menang yaaaaa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *