Beberapa hari yang lalu Saya sempet nonton TV, dan melihat sebuah iklan produk makanan yang dibintangi sama Soimah *iya, penyanyi yang lagi ngehits itu..*. Disitu adegannya Soimah lagi nyanyi pakai bahasa daerah, bahasa Jawa tepatnya. Sayangnya, diiklan berbahasa daerah itu tidak dicantumkan subtitle dibawahnya untuk memperjelas arti dari isi nyanyian Soimah *yang pastinya secara tidak langsung akan memperjelas maksud yg ingin disampaikan dari iklan itu*. Sebagai masyarakat Indonesia yang bukan berasal dari Jawa, Saya awalnya tidak terlalu paham isi nyanyian yg ada diiklan itu. Sedikit2 ngerti sih, soalnya beberapa kata pernah Saya dengar dan pahami. Namun bagaimana dengan masyarakat daerah lain yang bahkan sama sekali tidak mengerti dengan bahasa Jawa??
IMHO menurut Saya cara marketing seperti rugi. Kenapa? Karena isi iklannya *pastinya berupa promosi* tidak tersampaikan dengan baik ke seluruh rakyat Indonesia. Mungkin si pembuat iklan “lupa” bahwa Indonesia itu punya beragam budaya daerah. Beragam bahasa. Untuk kasus ini, tidak semua masyarakat Indonesia yang mengerti bahasa Jawa, bukan? Begitu pula jika ada iklan2 lain yang menggunakan bahasa dari daerah2 lain tanpa menggunakan subtitle lalu masuk ke TV nasional. Kan sayang banget kalau udah mahal2 masukin iklan ke TV nasional tapi yang mengerti sama isi iklannya hanya kalangan masyarakat daerah tertentu saja.
Sebenarnya Saya melihat penggunaan bahasa daerah untuk skala TV nasional ini bagus jika ada hubungannya dengan pelestarian budaya atau misi budaya. Tapi mungkin akan lebih efektif dan efisien jika maksud yang ingin disampaikan oleh sebuah iklan dapat dimengerti semua kalangan masyarakat sesuai skala pemirsanya. IMHO penggunaan bahasa daerah pada iklan tanpa subtitle hanya akan lebih efektif digunakan untuk TV lokal. Jika skala pemirsanya nasional, gunakanlah bahasa nasional. Atau gunakan subtitle pada penggunaan bahasa daerah untuk mempermudah pemirsa yang tidak familiar dengan bahasa daerah tertentu ![]()
Sekian.
Photo dari sini














KeritiKentang is a review website that was created in 2007 by the twins, Nieke and Nilla. Initially this website was intended as a “speak up” media for the twins to write about any issues around them. But now KeritiKentang has a new concept, i.e. a review website about every things/stuffs that the twins use or have. “A single photo with captions in Facebook/Twitter is not enough to share some cool stuffs (or bad ones)”, it is the reason why this site is now becomea review site. The changes is also intended to give this site some refreshment.
December 27, 2011 at 5:05 am
Setuju, konsekuensi pemilihan bahasa lokal sebagai sarana menyampaikan informasi, tentu akan membatasi tersebarnya informasi yang diemban iklan tersebut. Penonton makin kritis, iklan berbahasa Indonesia dengan logat daerah saja ditanyakan di ranah publik. Menurut saya, semua itu ada baiknya, karena orang akan semakin menyadari bahwa Indonesia terdiri dari banyak budaya lokal. :)
December 28, 2011 at 5:20 pm
@Mas Cordiaz: nah! Betul, informasi atau pesannya jd terbatas penyebarannya :)
December 27, 2011 at 10:46 pm
wah iya betul..mestinya ada subtitle indo juga di bawahnya.. tapi aku mikir mungkin next si iklan makanan ini akan membuat versi lainnya.. sunda, batak, dst..misalnya utk sunda ‘sadayana makan s…’ hehehe,,
December 28, 2011 at 5:21 pm
@Nisa: ahahahaa, Nisa ada2 aja. Bisa2 33versi iklannya ya Nis. Ihihi ;))
December 28, 2011 at 6:02 am
He? Ngehits?
Aku koq malah gak tau ya? :D
Btw mungkin asusminya pada ngerti semua, atau paling gak pada mau belajar lagu itu kali ya boow
December 28, 2011 at 5:24 pm
@mba Eka: ya ampun mba Eka, udah ada dimana2 itu orangnya :D nah itulah kenapa td aku mikirnya yg bikin iklan mungkin “lupa”, ga satu Indonesia ngerti bahasa daerah tertentu itu :)
December 28, 2011 at 3:58 pm
Tapi…. ada satu kemungkinan lain bahwasanya jika ini iklan bisa nge-hits dan mempesona banyak hal, bahasa yg digunakan akan populer dimana saja, masih inget iklan Caplang? satu pengalaman “Seng ada lawang” menjadi ikon baru orang ambon deh :D
December 28, 2011 at 5:27 pm
@Almas: bahasanya bisa jadi populer, tp gimana dgn isi pesan dan informasi yg disampaikan? Apakah tersebar dgn optimal di area sasaran promosinya?
December 28, 2011 at 7:48 pm
nyamannya jadi orang jawa *eh* :p ini kok nulisnya di keritikentang ya, tumben amat :p
December 28, 2011 at 8:16 pm
@mba Fenty: mumpung lg ada inspirasi utk blog ini mbak. Klo nulis ini diblog sebelah malah kurang pas, agak “berat” :p
January 2, 2012 at 11:32 pm
mungkin yg ditonjolkan bukan nyanyiannya, tapi gerak geriknya. secara saya ndengerin bolak balik juga ga kedengeran sih dia ngomong apa.
*gedein volume tipi*
January 10, 2012 at 3:56 am
Semoga bisa memperkaya khasanah budaya Nusantara Indonesia di periklanan nasional..
salam:
http://just-virtual.blogspot.com/
June 11, 2012 at 12:58 pm
Dari sisi pemertahanan budaya, media iklan sangat efektif sebagai wahana pemertahanan budaya,salah satunya bahasa lokal. Iklan tersebut sebagai “pemantik” agar muncul serupa iklan2 lain yang mengangkat bahasa lokal. Saya perhatikan, strategi ini juga untuk menarget masyarakat tertentu sebagai target primernya dan ini sebetulnya menguntungkan dan pasti sudah diperhitungkan.