Mereka-mereka yang Jauh akan Rejeki

Suatu hari, saya pernah mengunjungi sebuah rumah makan bersama ibu saya. Saat itu, padahal pengunjung rumah makan tersebut bisa dibilang sepi. Hanya sekitar 2 meja saja yang terisi. Saya hanya melihat 2 orang pelayan di sana dan rumah makan tersebut memang tidak besar, namun juga tidak bisa dibilang kecil. Saat itu saya lihat hanya 1 pelayan saja yang sibuk melayani pengunjung lain. Yang 1 nya lagi tampak mondar mandir ke sana ke mari entah mengurus apa. Ibu saya sudah berkali-kali mencoba memanggil salah 1 dari mereka untuk memesan makanan. Namun tidak ada 1 pun dari mereka yang sekedar menoleh, bahkan ketika kedua pelayan tersebut tampak sudah tidak terlalu sibuk. Melihat kejanggalan ini, ibu saya langsung kesal. Beliau langsung mengajak saya keluar dari rumah makan tersebut dan makan di tempat lain karena kecewa dengan pelayanan (atau lebih tepatnya pengabaian) yang kami terima. Hmmm… Saya jadi tidak heran kenapa rumah makan tersebut sepi. :)

 

Di hari yang lain, saya pernah menunggu angkot di sebuah halte. Tak jauh dari sana ada sekelompok tukang ojek yang sedang mangkal sambil menunggu penumpang. Namun, tiap kali ada perempuan muda yang lewat, para tukang ojek ini tak segan untuk menggoda. Bahkan juga berani agak mengikuti perempuan-perempuan muda ini berjalan dari belakang. Tentu sikap mereka yang cenderung nekad ini malah membuat risih. Padahal mungkin saja, beberapa dari para perempuan yang mereka goda itu sebenarnya adalah calon penumpang ojek-ojek tersebut. Namun karena sikap kurang sopan yang ditunjukkan oleh para tukang ojek yang kecentilan itu, para calon penumpang ini tidak jadi menggunakan jasa mereka. Bukannya mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jadilah para tukang ojek ini “kenyang” hanya dengan menggoda anak gadis orang. :P

 

Lain lagi dengan yang baru saja saya alami kemarin malam. Saya pergi ke sebuah toko kelontong untuk membeli sebotol minuman bersama seorang rekan. Anehnya saat kami hendak membayar, sang kasir ternyata malah sedang tidur di atas “meja kerja”-nya. Sudah berkali-kali rekan saya memanggil, namun sang kasir tidak juga bangun. Hingga akhirnya seseorang yang sepertinya mengenal kasir tersebut datang dan memanggil namanya, barulah ia mulai terbangun. Itu pun bukan kami duluan yang dilayani meskipun kami lah yang duluan datang. Kasir tersebut malah mendahulukan kenalannya itu meskipun rekan saya sudah menyodorkan uang sepuluh ribu di hadapannya. Sungguh tidak sopan! Saat itu juga mendadak kami menyesal. Tau begitu lebih baik kami tinggalkan saja toko kelontong tersebut dengan membawa minuman yang kami ambil TANPA kami bayar saat sang kasir tengah tertidur lelap.

 

Pada dasarnya, saya salut pada orang-orang yang tak punya uang namun mau berusaha keras untuk mencari nafkah. Tapi saya jauh lebih salut pada mereka-mereka yang meskipun sudah punya uang banyak, namun masih mau berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mencari nafkah dan melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawabnya. Oh, jangan tanyakan bagaimana respek saya terhadap mereka-mereka yang sudahlah tidak punya uang, namun juga tidak sungguh-sungguh dalam mencari nafkah. Kalian pasti sudah tau jawabannya… :)

in Opini, Sosial  

7 Responses to Mereka-mereka yang Jauh akan Rejeki

  1. ah soal merek-mereka di atas, bener katamu,
    dan selalu ga sadar dengan jargon “pembeli adalah raja”
    ga sadar kalo posisi mereka hanyalah pelayan

    semoga kita juga pas kerja sadar diri posisi kita selaku pelayan itu.
    :)

  2. kadang saya juga menjadi seolah seperti mereka.
    misalnya, ketika gaji saya pas-pasan, kerja saya pun pas-pasan..

    namun akhirnya saya sadar, kalau saya kerja seperti itu terus maka saya hanya akan seperti itu selamanya..

    perlakukan orang lain seolah melayani dirimu sendiri.. *wejangan garing*

  3. aku jg pernah mengalami seperti kejadian pertama, disalah satu resto bermenu pizza di daerah roxy. udahnya aku tinggal. setelah itu aku nemu resto bakmi ayam yg ternyata enak banget. hehehe.. kalo ga gitu, ga nemu kuliner baru :)

  4. ckckckck…
    aku gak habis pikir sama kelakuan orang2 itu.
    meskipun mereka gak mengenal jargon : “Pembeli adalah RAJA,” tapi seenggaknya mereka harus tau etika dong, kalo berhadapan dengan customer.

    suamiku last week training lagi ke Jakarta, kali ini stay di hotel Gran Melia. mau tau apa kata suami ttg hotel itu?

    “Hotelnya bagus Bun… Pegawainya baik-baiiiik gitu. Trus makanannya juga enak! Restorannya besar! Dan pegawainya baik-baiiiiiik deh. Kamarnya juga bagus. Pegawainya baik gitu deh….”

    See? Servis boleh sama lah, rata-rata antara satu hotel dengan hotel lain. Tapi kalo situ bisa didik pegawai dengan benar sehingga mereka bisa memperlakukan customer/tamu dengan SEBAIK-BAIKnya dan dengan manner yang SIP, hal itu pasti akan jadi hal yang sangat berkesan.

    bisa aja nih, hotel GM dari segi rate, rasa makanan, kebersihan dan lokasi gak jauh beda dari hotel sejenis. Mungkin malah dengan rate yang sama, tamu mendapat fasilitas lebih di hotel lain. Tapi kalo pegawainya GM lebih ramah, pasti tamu akan lebih pilih GM dong untuk kedepannya? ya gak?

    NB: ini komen tak berbayar ya, hehehe…

    • Betuuuuulll sekali. Kadang gaji yg kecil suka dijadikan alasan sebagai faktor penyebab kenapa pegawai-pegawai ini ga loyal sama pekerjaannya. :) Tp ya gimana jg mau dapet rejeki kalo yg ada sikap mereka malah semakin menjauhkan mereka dr rejeki?

  5. Stuju!! kadng suka kesel klo kita nanya2 tp dikasih tatapan”kliatannya lo ga mau beli cuman mau tanya2 doank” pengen bilang kedia” sini! muke lo gw bayarin juga bisa!” #komentar emosi jiwa ^_^V

  6. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *