Inilah Alasan Kenapa Pemberitaan yang Berimbang Itu Perlu!

Berbicara soal pelayanan yang tidak memuaskan, pasti tidak akan ada habisnya. Saya pernah dijutekin kasir saat membeli roti di sebuah toko roti hanya gara-gara saya membayar dengan uang 50.000, tidak dengan “uang kecil”. Rasanya saat itu saya pengen balik jutek ke dia. Iya, donk! Wong saya ini konsumen. Masa menyediakan uang kecil adalah tugas saya? Mana ada aturan seperti itu? Akhirnya saya pulang dengan hati dongkol. Padahal bisa saja saya memperpanjang masalah dengan memanggil manager-nya dan mengadukan semua perbuatan yang tidak menyenangkan si kasir itu ke saya. Tapi saya urungkan niat tersebut. Saya hanya membalasnya dengan tatapan tajam saat mengambil roti yang sudah saya bayar dan lekas pulang.

 

Kenapa? Toh si kasir juga manusia. Kalau mau berfikir positif, mungkin saat itu adalah hari super sial yang dialami oleh si kasir, yang membuatnya menjadi manusia yang tidak ramah. Nah, beberapa hari kemudian saya kembali ke toko yang sama dan bertemu lagi dengan si kasir. Kali ini sikapnya jauh lebih ramah. Meskipun saya tetap membayar dengan selembar uang 50.000. Hehehe… See? Tak ada salahnya memberi orang lain kesempatan kedua.

 

Di waktu yang lain, file-file kerjaan saya pernah tertinggal di foodcourt sebuah plaza. Saya sempat panik dan meminta tolong seseorang yang saya kenal untuk mengambilnya (karena saat itu saya sedang tidak bisa ke sana). Dan orang tersebut bercerita bahwa tidak sulit menemukan file-file kerjaan saya karena sikap kooperatif janitor plaza tersebut, serta sikap ramah atasannya yang menyerahkan file-file saya. Bahkan mereka menolak ketika diberi imbalan. Jangankan imbalan, saat ditanya siapa yang menemukan dan menyimpan file-file kerjaan yang sangat penting buat saya tersebut, sang atasan tidak mau menjawabnya dan hanya menjawab dengan ramah, “Pokoknya, salah seorang bawahan saya.” Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah saya alami beberapa tahun silam, saat kedua HP saya tak sengaja tertinggal di dalam bioskop dan saya diminta memberikan imbalan pada seseorang yang menemukan HP saya tersebut oleh atasannya sendiri dimana pernah saya ceritakan pada postingan ini.

 

Yah, begitulah. Bahkan di tempat yang sama, management yang sama, perusahaan yang sama, sikap pelayanan yang diterima bisa jadi berbeda-beda. Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut. Jadi, jangan melulu men-generalisasi dan membuat seluruh orang yang bekerja di sana ikut kena imbasnya. Hal ini buat saya juga berlaku untuk membuat pemberitaan tentang sebuah jasa pelayanan atau produk. Jangan sampai hanya karena ulah sebagian orang, seluruh karyawan yang juga bekerja di sana (bahkan mungkin yang sudah bekerja dengan sangat baik) menderita kerugian. Beberapa pengalaman mengajarkan saya bahwa pemberitaan yang seimbang itu sangat perlu. Meskipun sepertinya, pemberitaan tentang sesuatu yang buruk itu selalu lebih menarik, ya? :D

7 Responses to Inilah Alasan Kenapa Pemberitaan yang Berimbang Itu Perlu!

  1. That’s why they say ‘bad news is a good news’
    Tp bener nilla, kalau berita gak berimbang, jadinya membentuk opini publik yg bisa menyesatkan. Not good indeed.

  2. woops, maaf salah sebut nama :(

  3. mbak2 tukang rotinya lg PMS kali saat itu nil :D
    yup bener, pemberitaan yg berimbang. supaya yg dapet berita tidak salah kaprah … udah banyak lah contohnya di negara kita tercinta ini.

  4. manggilnya nilla apa Jumi nih :D
    si mbaknya nggak tahu prinsip pembeli adalah raja mungkin, hehe

  5. betul…………. setuju tuh kasian kan kalo cm mojokin satu pihak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *